PENCEGAHAN DAN PENATALAKSANAAN SARKOPENIA PADA LANSIA
Oleh : dr. Elfina Rachmi, M.Gizi, Sp.GK
Pendahuluan
Sarkopenia
merupakan kondisi yang ditandai dengan penurunan massa otot, kekuatan, dan
fungsi fisik yang terjadi secara progresif seiring bertambahnya usia. Kondisi
ini menjadi masalah kesehatan yang penting pada lansia karena berhubungan
dengan peningkatan risiko jatuh, disabilitas, penurunan kualitas hidup, serta
kematian. Dalam konteks kesehatan tulang, sarkopenia memiliki hubungan yang
erat dengan osteoporosis, di mana kombinasi keduanya dapat meningkatkan risiko
fraktur secara signifikan. Oleh karena itu, pencegahan dan penatalaksanaan
sarkopenia menjadi sangat penting dalam upaya menjaga kesehatan lansia di
tingkat komunitas.
Faktor Risiko Sarkopenia pada Lansia
Sarkopenia
pada lansia dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Proses
penuaan menyebabkan penurunan sintesis protein otot, perubahan hormonal, serta
peningkatan inflamasi kronis tingkat rendah. Selain itu, kurangnya aktivitas
fisik menjadi faktor utama yang mempercepat kehilangan massa otot. Asupan
nutrisi yang tidak adekuat, terutama rendahnya konsumsi protein, juga berperan
penting dalam terjadinya sarkopenia. Penyakit kronis seperti diabetes mellitus,
obesitas, dan penyakit inflamasi turut memperburuk kondisi ini. Kondisi
malnutrisi yang sering terjadi pada lansia juga menjadi faktor yang mempercepat
penurunan massa dan kekuatan otot.
Patofisiologi Sarkopenia

Gambar 1. Interaksi antara disfungsi mitokondria, penuaan sel
(cellular senescence), dan sarkopenia pada otot yang menua. ROS: Reactive
Oxygen Species; mtDNA: mitochondrial DNA; ATP: Adenosine Triphosphate; SASP:
Senescence-Associated Secretory Phenotype.

Gambar 2. Peran inflamasi kronis, termasuk interleukin-6 (IL-6) dan
tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), dalam meningkatkan degradasi protein otot
dan berkontribusi terhadap terjadinya sarkopenia.

Gambar 3. Perubahan hormonal pada proses penuaan, termasuk penurunan
testosteron dan hormon pertumbuhan, serta dampaknya terhadap penurunan sintesis
protein otot dan terjadinya resistensi anabolik.

Gambar 4. Gambaran mekanisme multifaktorial yang terlibat dalam
sarkopenia, meliputi inflamasi, stres oksidatif, disfungsi mitokondria, dan
perubahan hormonal.
Sarkopenia
terjadi akibat interaksi berbagai mekanisme biologis yang kompleks. Peningkatan
inflamasi kronis dengan mediator seperti interleukin-6 (IL-6) dan tumor
necrosis factor-alpha (TNF-α) menyebabkan peningkatan degradasi protein otot.
Selain itu, stres oksidatif yang meningkat dapat merusak sel otot dan
menyebabkan disfungsi mitokondria sehingga produksi energi menurun. Penurunan
hormon anabolik seperti testosteron dan hormon pertumbuhan juga berkontribusi
terhadap penurunan sintesis protein otot. Kombinasi faktor-faktor tersebut
menyebabkan penurunan regenerasi sel otot dan peningkatan proses katabolisme
yang akhirnya mengakibatkan atrofi otot.
Pencegahan Sarkopenia pada Lansia
Pencegahan
sarkopenia merupakan langkah utama yang lebih efektif dibandingkan pengobatan
setelah kondisi terjadi. Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui peningkatan
aktivitas fisik, pemenuhan kebutuhan gizi, serta modifikasi gaya hidup.
Aktivitas
fisik secara rutin, terutama latihan resistensi, sangat penting dalam
mempertahankan massa dan kekuatan otot. Latihan ini mampu merangsang sintesis
protein otot dan meningkatkan fungsi neuromuskular. Selain itu, latihan aerobik
dan keseimbangan juga berperan dalam meningkatkan stabilitas tubuh dan
mengurangi risiko jatuh.
Pemenuhan kebutuhan gizi juga sangat penting dalam pencegahan sarkopenia. Asupan protein yang cukup diperlukan untuk menjaga massa otot, sedangkan vitamin D dan kalsium berperan dalam fungsi otot dan kesehatan tulang. Gaya hidup sehat seperti tidur yang cukup, menghindari merokok, serta menjaga aktivitas harian juga menjadi bagian penting dalam pencegahan sarkopenia.
Penatalaksanaan Sarkopenia pada Lansia
(Terapi Medik Gizi dan Intervensi Lain)

Gambar 5. Algoritma diagnostik sarkopenia berdasarkan EWGSOP2 yang
dimodifikasi, meliputi tahap skrining, diagnosis, konfirmasi, dan klasifikasi
tingkat keparahan berdasarkan kekuatan otot, massa otot, dan performa fisik.

Gambar 6. Jenis latihan fisik yang direkomendasikan dalam
penatalaksanaan sarkopenia, meliputi latihan resistensi, latihan aerobik, dan
latihan keseimbangan untuk meningkatkan kekuatan otot dan fungsi fisik.

Gambar 7. Mekanisme yang berperan dalam patogenesis sarkopenia,
termasuk inflamasi, stres oksidatif, dan gangguan regenerasi otot.

Gambar 8. Pendekatan terapi multimodal pada sarkopenia yang terdiri dari empat pilar utama, yaitu latihan fisik, terapi nutrisi (protein dan mikronutrien), suplementasi (seperti omega-3 dan HMB), serta pendekatan farmakologis untuk meningkatkan massa otot dan kualitas hidup.
Penatalaksanaan
sarkopenia pada lansia dilakukan secara komprehensif melalui pendekatan
multidisiplin yang meliputi terapi medik gizi, latihan fisik, serta modifikasi
gaya hidup. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan massa dan kekuatan
otot, memperbaiki fungsi fisik, serta menurunkan risiko jatuh dan fraktur yang
berkaitan dengan osteoporosis.
Terapi
medik gizi merupakan pilar utama dalam penatalaksanaan sarkopenia pada lansia.
Pada kondisi ini terjadi anabolic resistance, yaitu penurunan respons tubuh
terhadap asupan protein, sehingga kebutuhan protein meningkat. Oleh karena itu,
asupan protein pada lansia dianjurkan sebesar 1,0–1,2 g/kg berat badan/hari,
dan dapat ditingkatkan hingga 1,2–1,5 g/kg berat badan/hari pada kondisi
tertentu seperti penyakit kronis atau malnutrisi. Sumber protein yang
dianjurkan adalah protein dengan nilai biologis tinggi seperti ikan, telur,
susu, dan daging tanpa lemak, serta protein nabati seperti kedelai. Distribusi
protein yang merata dalam setiap waktu makan (sekitar 25–30 gram per makan)
lebih efektif dalam merangsang sintesis protein otot.
Vitamin
D memiliki peran penting dalam fungsi otot dan sistem neuromuskular. Pada
lansia, kemampuan sintesis vitamin D dari kulit menurun sehingga risiko
defisiensi meningkat. Oleh karena itu, pemenuhan vitamin D melalui makanan,
paparan sinar matahari, maupun suplementasi sangat dianjurkan dengan dosis
sekitar 700–1000 IU/hari.
Kalsium
juga berperan penting dalam kontraksi otot dan kesehatan tulang. Asupan kalsium
yang dianjurkan pada lansia adalah sekitar 1000–1200 mg/hari, yang
berkontribusi dalam pencegahan osteoporosis dan penurunan risiko fraktur.
Nutrien
tambahan seperti asam lemak omega-3 berperan dalam mengurangi inflamasi kronis,
sedangkan antioksidan membantu menurunkan stres oksidatif. Pada lansia dengan
asupan yang tidak adekuat, pemberian oral nutritional supplementation (ONS)
dapat digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan energi dan protein harian
sesuai kondisi individu.
Selain
terapi medik gizi, latihan resistensi merupakan intervensi utama yang efektif
dalam meningkatkan massa dan kekuatan otot. Latihan ini dapat dikombinasikan
dengan latihan keseimbangan dan aerobik untuk meningkatkan fungsi fisik dan
mencegah risiko jatuh. Modifikasi gaya hidup seperti peningkatan aktivitas
fisik harian, tidur yang cukup, serta penghentian kebiasaan merokok juga
merupakan bagian penting dalam penatalaksanaan sarkopenia.
Hingga
saat ini, belum terdapat terapi farmakologis spesifik yang direkomendasikan
secara luas, sehingga pendekatan berbasis terapi medik gizi dan latihan fisik
tetap menjadi strategi utama.
Kesimpulan
Pencegahan dan penatalaksanaan sarkopenia pada lansia merupakan langkah penting dalam menjaga kualitas hidup serta mencegah komplikasi seperti jatuh dan fraktur yang berkaitan dengan osteoporosis. Pendekatan yang komprehensif melalui terapi medik gizi, latihan fisik, serta gaya hidup sehat merupakan strategi utama yang efektif dalam mengatasi sarkopenia. Dengan intervensi yang tepat, risiko sarkopenia dan dampaknya terhadap kesehatan tulang dapat diminimalkan, terutama dalam konteks kesehatan masyarakat.
Daftar Referensi
1.
European
Working Group on Sarcopenia in Older People. Cruz-Jentoft AJ, Bahat G, Bauer J,
et al. Sarcopenia: revised European consensus on definition and diagnosis. Age
Ageing. 2019;48(1):16–31.
2.
Chen
LK, Woo J, Assantachai P, et al. Asian Working Group for Sarcopenia: 2019
Consensus Update on Sarcopenia Diagnosis and Treatment. J Am Med Dir Assoc.
2020;21(3):300–307.
3.
Deutz
NEP, Bauer JM, Barazzoni R, et al. Protein intake and exercise for optimal
muscle function with aging. Clin Nutr. 2014;33(6):929–936.
4.
Bauer
J, Biolo G, Cederholm T, et al. Evidence-based recommendations for protein
intake in older people. J Am Med Dir Assoc. 2013;14(8):542–559.
5.
Morley
JE, Anker SD, von Haehling S. Prevalence and clinical impact of sarcopenia.
Clin Geriatr Med. 2011;27(3):337–351.
6.
Holick
MF. Vitamin D deficiency. N Engl J Med. 2007;357:266–281.
7.
Institut
Kedokteran. Dietary Reference Intakes for Calcium and Vitamin D. 2011.
8.
Papaioannou
A, et al. Osteoporosis and fracture prevention. Osteoporos Int.
2003;14(8):677–682.