Potensi
Obat Bahan Alam Untuk Tata Laksana Osteoporosis
Oleh :
dr. Anggi Gayatri, Sp.FK
Osteoporosis
adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai dengan peningkatan kerentanan
tulang dan risiko fraktur akibat penurunan massa tulang dan degradasi
mikrostruktural. Rekomendasi penanganan osteoporosis adalah dengan modifikasi
gaya hidup dan terapi suportif seperti olahraga beban dan aktivitas fisik,
menghentikan kebiasaan merokok dan minum alkohol, serta pemberian suplementasi
vitamin D dan kalsium. Terapi farmakologis dengan obat konvensional dapat
diberikan terutama bagi pasien dengan fraktur akibat osteoporosis, pasien
dengan hasil BMD yang masuk kategori osteoporosis dan pasien osteopenia yang
berisiko tinggi mengalami fraktur. Obat standar yang dapat digunakan sebagai
lini pertama yaitu golongan bisfosfonat, seperti alendronate, risedronat,
zolendronat, dan ibandronate. Selain itu obat-obatan lain yang juga dapat
digunakan Adalah Selective Estrogen Receptor Modulators (SERMs), hormone
replacement therapy (HRT), Receptor Activator Of Nuclear Factor
Kappa-Beta Ligand (RANKL) inhibitor (seperti denosumab), kalsitonin,
dan hormon paratiroid. Obat-obatan tersebut perlu digunakan dalam jangka panjang
sehingga risiko timbulnya efek samping akan meningkat. Efek samping yang
mungkin terjadi seperti misalnya osteonecrosis tulang rahang pada penggunaan
bisfosfonat serta kejadian serebro-kardiovaskular dan kanker payudara pada
penggunaan HRT. Oleh karenanya diperlukan alternatif terapi farmakologis yang
aman digunakan terutama pada penggunaan jangka panjang. Salah satu alternatif
yang dapat dijadikan pilihan adalah penggunaan obat bahan alam (dulu dikenal
sebagai obat herbal). Saat ini telah banyak dilakukan berbagai penelitian untuk
mengetahui manfaat obat bahan alam dalam terapi osteoporosis.
Berdasarkan
peraturan Kepala BPOM no 25 tahun 2023, definisi obat bahan alam adalah bahan,
ramuan bahan, atau produk yang berasal dari sumber daya alam berupa tumbuhan,
hewan, jasad renik, mineral, atau bahan lain yang telah digunakan secara turun
temurun, atau sudah dibuktikan berkhasiat, aman, dan bermutu, yang digunakan
untuk pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan,
dan/atau pemulihan kesehatan berdasarkan pembuktian secara empiris dan/ atau
ilmiah. Secara garis besar, obat bahan alam dapat dibedakan menjadi 3 jenis,
yaitu jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Jamu adalah obat bahan alam
warisan budaya Indonesia digunakan dengan cara yang sama dengan nenek moyang.
Sementara itu, obat herbal terstandar adalah obat bahan alam yang telah
dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik (uji pada
hewan coba). Sedangkan fitofarmaka adalah obat bahan alam yang telah dibuktikan
keamanan dan khasiatnya secara ilmiah melalui uji klinik pada manusia. Pada
tahun 2025 diperkirakan Indonesia memiliki lebih dari 17.000 produk jamu,
dengan 78 diantaranya termasuk obat herbal terstandar dan 21 produk fitofarmaka
yang sudah terdaftar di BPOM.
Karakteristik
obat bahan alam berbeda dengan obat konvensional. Obat bahan alam dapat
mengandung beberapa zat aktif/senyawa sehingga seringkali tidak diketahui
secara pasti zat aktif mana yang memiliki efek terapi. Seperti layaknya obat
konvensional, ketika menggunakan obat bahan alam artinya kita tetap memasukkan
bahan asing ke dalam tubuh sehingga dalam penggunaannya tetap berpotensi
menimbulkan efek samping. Seringkali efek samping obat bahan alam lebih sulit
diprediksi dibanding obat konvensional karena senyawa yang terkandung di
dalamnya lebih dari satu.
Pada
kajian literatur dari Adnyana IK, dkk didapatkan 16 jenis tanaman yang sering
digunakan sebagai alternatif ataupun terapi tambahan pada pengobatan
osteoporosis. Diantaranya yaitu cengkeh, jahe merah, kacang hijau, kapulaga, kayu
manis, lada hitam, pegagan, temulawak, sambiloto, kunyit putih, salam, bawang
Bombay dan mengkudu.
Potensi
manfaat sebagian besar bahan alam untuk terapi osteoporosis baru dibuktikan
melalui penelitian in vitro dan uji pada hewan coba. Pada penelitian in vitro
terbukti bahwa cengkeh (Syzygium aromaticum) dapat meningkatkan
proliferasi osteoblast dan menghambat pembentukan osteoklast. Mekanisme
molekuler yang diduga mendasari hambatan pembentukan osteoklast adalah melalui
induksi receptor activator of nuclear factor-κB ligand (RANKL) dan
penurunan ekspresi gen marker osteoklast seperti tartrate-resistant acid
phosphatase (TRAP), cathepsin K (CtsK) dan matrix
metalloproteinase-9 (MMP-9). Mekanisme penurunan ekspresi TRAP dan CtsK juga
didapatkan pada mengkudu (Morinda citrifolia). Mengkudu juga dibuktikan
dapat meningkatkan apoptosis osteoklast dengan meningkatkan ekspresi protein
osteoprotegerin yang berperan dalam berikatan dengan RANKL sehingga menghambat
ikatannya dengan RANK dan menghambat aktivasi osteoklast. Selain itu mengkudu
juga diketahui dapat meningkatkan osteokalsin. Peningkatan osteokalsin juga
didapatkan pada jenis kacang-kacangan seperti kacang kedelai, kacang hijau,
kacang Panjang dan kacang merah. Bahan alam lain yang juga secara molekuler
memiliki efek antiosteoporosis adalah androgapholide yang diekstrak dari
sambiloto (Andrographis paniculata).
Beberapa
bahan alam yang dikembangkan untuk terapi osteoporosis tidak secara langsung
memiliki aktivitas antiosteoporosis, namun memiliki efek antiinflamasi,
antioksidan dan analgesik. Hal ini didasari oleh bukti adanya peran proses
inflamasi dan stress oksidatif pada osteoporosis. Proses inflamasi akan
meningkatkan mediator inflamasi dan menyebabkan keadaan stress oksidatif.
Keadaan ini akan meningkatkan mediator inflamasi, seperti TNF-α dan interleukin,
yang dapat menginduksi proses aktivasi dan proliferasi osteoklast sehingga
memicu proses penyerapan tulang. Aktivitas inflamasi diantaranya ditemukan pada
eugenol dan 6-gingerol dari cengkeh, piperin dari lada hitam, serta
xanthorrhizol dari temulawak. Efek antioksidan didapatkan misalnya pada 6-shogaol
dan gingerdione dari jahe merah, hidroksikavikol dari daun salam dan asam
asiatik dari pegagan.
Salah
satu kandungan bahan alam yang telah dilakukan uji klinik adalah fitoestrogen. Fitoestrogen
adalah bahan alam yang memiliki struktur mirip dengan 17-estradiol sehingga
diharapkan dapat menggantikan pemberian HRT. Berbagai buah (misal: apel),
sayuran (misal: seledri, wortel, kentang), kacang-kacangan (misal: kedelai) dan
biji-bijian adalah sumber makanan yang kaya fitoestrogen.
Dari
systematic review yang dilakukan oleh Widowati AR (2023) didapatkan
bahwa fitoestrogen dapat meningkatkan densitas tulang secara signifikan pada
pemberian minimal 6 bulan jika dibandingkan dengan plasebo. Fitoestrogen
diketahui dapat meningkatkan penanda pembentukan tulang seperti kalsium,
fosfor, dan vitamin D serta menurunkan kadar osteokalsin dan alkalin fosfatase
tulang dan penanda resorpsi tulang lainnya. Fitoestrogen relatif aman digunakan
selama 6 bulan. Pada berbagai uji klinik tidak didapatkan laporan kejadian efek
samping berat. Efek samping yang paling banyak terjadi adalah gangguan saluran
cerna.
Salah
satu jenis fitoestrogen yang banyak diteliti untuk terapi osteoporosis adalah genistein. Genistein banyak didapatkan pada kedelai dan
kacang polong. Squadrito F dkk (2023) membuktikan bahwa penggunaan genistein 54
mg/hari selama 24 bulan pada 200 pasien perempuan menopause yang mengalami glucocorticoid-induced
osteoporosis (GIO) dapat meningkatkan bone marrow density (BMD)
setara dengan alendronate 70 mg/minggu selama 24 bulan (0,02 g/cm2 vs 0,02
g/cm2 pada tahun pertama dan 0,03 g/cm2 vs 0,04 g/cm2) . Pada pemeriksaan
penanda tulang, didapatkan keduanya dapat menurunkan telopeptide terminal C dan
perubahan osteokalsin, alkalin fosfatase tulang dan sklerostin lebih besar pada
kelompok genistein.
Pemilihan
bahan alam untuk dikembangkan menjadi obat osteoporosis juga dapat
mempertimbangkan kandungan zat dalam bahan tersebut. Seperti misalnya kandungan
protein, kalsium dan fosfor yang tinggi dalam ikan saluang menjadi dasar bagi
peneliti di Indonesia untuk menggunakannya dalam terapi osteoporosis. Bahan
alam asli Indonesia lainnya yang saat ini juga banyak diteliti untuk
osteoporosis adalah bawang dayak yang mengandung eleuterinol dan dapat
berikatan secara selektif dengan reseptor estrogen. Pada studi hewan didapatkan
bahwa ekstrak bawang Dayak (Eleutherine bulbosa) dapat meningkatkan
kadar kalsium darah dan densitas tulang pada dosis sedang dan tinggi, serta
dapat meningkatkan jumlah sel osteoblast pada penggunaan dosis tinggi.
Dari
berbagai temuan pada studi preklinik dan klinik di atas, dapat disimpulkan
bahwa berbagai bahan alam, yang juga banyak terdapat di Indonesia, berpotensi
untuk digunakan pada pencegahan dan terapi osteoporosis. Walaupun demikian,
sebelum dapat digunakan secara luas dalam pelayanan, perlu dilakukan
standarisasi bahan baku. Standarisasi sangat penting dilakukan karena kualitas
dan kuantitas ekstrak sangat ditentukan oleh varian tanaman, tempat tumbuh
tanaman, komposisi tanah, iklim dan cuaca serta kandungan air di lokasi tanaman
tumbuh. Jenis ekstrak yang sama dari spesies tanaman yang sama namun tumbuh di tempat yang berbeda bisa
jadi memiliki kandungan dan komposisi yang berbeda. Oleh karenanya standarisasi
dibutuhkan sejak awal pengembangan obat bahan alam, sehingga dapat dipastikan
bahwa obat yang terbukti bermanfaat saat uji preklinik dan uji klinik juga akan
memperlihatkan hasil yang sama ketika digunakan dalam pelayanan.
Referensi:
1. Adnyana IK, Kartika IGAA. Kajian
efektivitas penggunaan tanaman obat dalam jamu untuk pengobatan osteoporosis.
Jurnal Farmasi Galenika. Volume 3 no 1 (ISSN: 2406-9299)
2.
Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK. 01.07/MENKES/2171/2023 tentang
Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Osteoporosis.
3.
Lugfiana
F, Sari RA, Sholikhah I, et al. Effects of Eleutherine bulbosa (mill.) urb.
Bulb extract on mice glucocorticoid-induced osteoporosis models. Journal of
Public Health in Africa. 2023; 14(S1): 2507.
4.
Peraturan
Badan Pengawas Obat dan Makanan no 25 tahun 2023 tentang Kriteria dan Tata
Laksana Registrasi Obat Bahan Alam
5.
Squadrito
F, Imbalzano E, Rottura M, et al. Effects of genistein aglycone in
glucocorticoid induced osteoporosis: A randomized clinical trial in comparison
with alendronate. Biomedicine & Pharmacotherapy. 2023; 163:114821.
6.
Widowati
AR. Comprehensive analysis of phytoestrogen intervention in osteoporosis
management: a systematic review of randomized controlled trials. Asian J
Heal Res. 2023;2(3): 61−71. doi:https://doi.org/10.55561/ajhr.v2i3.134
7. https://www.pom.go.id/berita/kepala-bpom-tekankan-pentingnya-pemanfaatan-obat-bahan-alam-dalam-pelayanan-kesehatan-indonesia. Diakses tanggal 29 November 2025.