Indikasi Penggunaan BMD Untuk Penapisan dan Diagnosis Osteoporosis

Oleh :
Dr. dr. Hermina Sukmaningtyas, M.Kes, Sp.Rad(K)
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro- RS Kariadi Semarang

Pendahuluan
           Osteoporosis merupakan masalah kesehatan serius yang dapat berdampak pada kualitas hidup dan kemandirian seseorang, terutama pada usia lanjut. Osteoporosis atau di Indonesia dikenal sebagai keropos tulang merupakan suatu penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh menurunnya kepadatan mineral tulang (bone mineral density/ BMD) dan gangguan mikroarsitektural tulang, sehingga tulang mudah patah. Akibat patah tulang akibat osteoporosis terutama pada tulang panggul, paha atas, lengan dan tulang belakang akan berakibat pada gangguan kehidupan sehari-hari dan bahkan dapat menimbulkan kematian. Kondisi ini dapat mengganggu dan menyebabkan terbatasnya berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari, serta juga berdampak pada kemandirian, okupasi, dan kualitas hidup pasien. 

           Osteoporosis merupakan silent disease karena biasanya penderitanya tidak merasakan adanya gejala. Gejala maupun tanda yang dirasakan terjadi karena adanya fraktur akibat osteoporosis. Tanda dan gejala fraktur yang dirasakan adalah nyeri, deformitas tulang, perubahan postur (kifosis), ataupun tinggi badan yang berkurang. Akibat fraktur osteoporosis akan menyebabkan keterbatasan fungsional, dan gangguan psikososial. Oleh karena itu pencegahan dan diagnosis dini osteoporosis sangatlah penting untuk menghindari komplikasi yang ditimbulkan dengan mengenali faktor risiko, penapisan serta diagnosis dini osteoporosis. Upaya pencegahan dan diagnosis yang akurat akan memberikan dampak positif jangka panjang dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Salah satu metode penapisan dan diagnosis osteoporosis dilakukan dengan pemeriksaan BMD.

           Pemeriksaan BMD dengan metode Dual-energy X-ray Absorptiometry (DXA) sebagai baku emas menjadi alat penting dalam menentukan diagnosis dan rencana pengobatan. Dengan indikasi yang tepat, pemeriksaan ini tidak hanya membantu dalam penapisan populasi berisiko dan diagnosis, tetapi juga dalam memantau respons terhadap terapi.

Apakah BMD dan Bagaimana Pengukuran BMD
           BMD adalah jumlah mineral per unit tulang dan dapat digunakan sebagai indikator tidak langsung kekuatan tulang. BMD dapat diukur dengan berbagai metode. Salah satu metode paling akurat dan luas digunakan untuk menilai kepadatan tulang adalah Bone Mineral Densitometry (BMD) dengan Dual-energy X-ray Absorptiometry (DXA)

Apa itu Bone Mineral Densitometry (BMD) DXA?
           BMD adalah pemeriksaan pencitraan dengan radiasi sinar-X berdosis rendah untuk menilai kepadatan mineral tulang. Teknologi DXA bekerja dengan membandingkan penyerapan dua berkas sinar-X pada jaringan tulang sehingga dapat mengukur ketebalan dan kekuatan tulang secara akurat. 

           Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada tulang pinggul (femur) dan tulang belakang lumbal, karena area tersebut paling rentan patah akibat osteoporosis. 

Jenis Pemeriksaan BMD selain menggunakan DXA:
1. QCT (Quantitative Computed Tomography):
Lokasi pemindaian dilakukan pada spine dan hip.
- Keunggulan: analisis 3D, tidak terganggu osteofit atau artefak degeneratif yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.
- Kekurangan: radiasi tinggi, biaya mahal, tidak tersedia luas.

2. pQCT (Peripheral QCT):
- Lokasi pemindaian pada radius, tibia.
- Keunggulan: analisis terpisah antara trabekular dan kortikal.
- Kekurangan: non-standar untuk diagnosis klinis, lebih umum di riset.

3. QUS (Quantitative Ultrasound):
- Lokasi pemindaian pada calcaneus (tumit).
- Keunggulan: tanpa radiasi, portable, mudah digunakan.
- Kekurangan: tidak dapat digunakan untuk diagnosis klinis; hanya untuk skrining risiko awal.

4. Radiofrequency Echographic Multi Spectrometry (REMS):
- Lokasi pemindaian pada spine dan hip (leher femur)
- Keunggulan: tanpa radiasi karena menggunakan kombinasi gelombang suara dan radiofrequency, portable, dan mudah diakses pada keadaan seperti hamil dan anak-anak yang membutuhkan pemeriksaan BMD lebih sering, serta mempunyai kemampuan dianggap setara BMD-DXA
- Kekurangan: belum tersedia luas di layanan kesehatan di Indonesia


Gambar 1. a. BMD DXA


Gambar 1. b. QCT dan hasil pemindaian pemeriksaan QCT


Gambar 2. Posisi dan komponen QUS 


Gambar 3. Radiofrequency Echographic Multi Spectrometry (REMS)

Faktor Risiko Osteoporosis

Dalam penapisan dan diagnosis osteoporosis, penting untuk mengetahui faktor risiko osteoporosis berupa riwayat konsumsi obat – obatan rutin, riwayat penyakit yang berhubungan dengan osteoporosis, serta faktor lain seperti riwayat merokok, konsumsi alkohol, haid, menarche, menopause, maupun riwayat keluarga dengan fraktur fragilitas.

Peran BMD dalam Penapisan Osteoporosis

Mengapa perlu skrining?

Osteoporosis sering disebut silent disease—tidak terasa hingga terjadi patah tulang. Oleh karena itu, skrining diperlukan untuk:

1. Mengetahui risiko patah tulang lebih dini sebelum gejala muncul.

2. Menilai efektivitas pengobatan pada pasien yang sudah menjalani terapi osteoporosis.

3. Mengidentifikasi individu dengan faktor risiko tinggi, misalnya:
- Wanita usia ≥ 65 tahun
- Pria usia ≥ 70 tahun
- Wanita pascamenopause dengan faktor risiko (rokok, alkohol, BMI rendah)
- Penggunaan obat steroid jangka panjang
- Riwayat patah tulang akibat cedera ringan
- Penyakit tertentu seperti rheumatoid arthritis atau malabsorpsi

Kapan Pemeriksaan BMD Sebaiknya Dilakukan?
Organisasi kesehatan internasional merekomendasikan pemeriksaan BMD bagi:

- Wanita ≥ 65 tahun dan pria ≥ 70 tahun
- Wanita pascamenopause atau pria usia 50–69 tahun dengan faktor risiko
- Individu dengan riwayat patah tulang setelah usia > 50 tahun
- Pengguna obat steroid jangka panjang (seperti prednison)
- Pasien dengan penyakit yang memengaruhi metabolisme tulang
- Orang dengan penurunan tinggi badan signifikan atau nyeri punggung kronis akibat kecurigaan fraktur kompresi

Indikasi Skrining Osteoporosis

Skrining rutin: Semua wanita berusia di atas 65 tahun dan pria berusia di atas 70 tahun.

Wanita pascamenopause: Usia di bawah 65 tahun tetapi memiliki faktor risiko osteoporosis seperti:

- Berat badan rendah
- Riwayat patah tulang pinggul sebelum usia 50 tahun
- Menopause dini 

Individu dengan faktor risiko lain:

- Pria berusia 50-70 tahun dengan faktor risiko
- Riwayat patah tulang setelah usia 50 tahun
- Penggunaan kortikosteroid (seperti prednison) selama 3 bulan atau lebih
- Konsumsi alkohol berlebihan (tiga atau lebih porsi per hari)
- Merokok
- Memiliki riwayat keluarga osteoporosis
- Mengalami penurunan tinggi badan secara signifikan
- Memiliki penyakit tertentu seperti rheumatoid arthritis, penyakit hati, diabetes tipe 1, penyakit ginjal kronis, atau gangguan makan.

Peran BMD dalam Diagnosis Osteoporosis

Pemeriksaan BMD dengan metode Dual energy X-ray Absorptiometry (DXA) sebagai baku emas menjadi alat penting dalam menentukan diagnosis dan rencana pengobatan. Dengan indikasi yang tepat, pemeriksaan ini tidak hanya membantu dalam penapisan populasi berisiko dan diagnosis, tetapi juga dalam memantau respons terhadap terapi. 

Hasil BMD dinyatakan dalam bentuk T-score dan Z-score yang dibandingkan dengan populasi rujukan. Diagnosis Osteoporosis berdasarkan pada nilai T-Score dengan menggunakan BMD DXA untuk wanita dan pria > 50 tahun 

Kriteria T-score menurut WHO:

• Normal: ≥ -1

• Osteopenia (low bone mass/ massa tulang rendah): antara -1 hingga -2,5

• Osteoporosis: ≤ -2,5

• Osteoporosis berat: ≤ -2,5 dengan riwayat fraktur akibat trauma minimal

Makna Z-score

Digunakan terutama untuk individu < 50 tahun, membandingkan densitas tulang dengan individu seusia. Z-Score tidak digunakan untuk menyatakan osteoporosis.

Pada perempuan premenopause dan laki-laki <50 tahun, serta anak-anak menggunakan Z-score dengan ketentuan:

1) Nilai Z-score >-2 dikatakan within expected range for age.

2) Nilai Z-score ≤-2 dikatakan low BMD for chronological age

Z-score ≤ -2 menunjukkan kemungkinan masalah tulang yang perlu evaluasi lebih lanjut.

Prosedur Pemeriksaan BMD

Pemeriksaan BMD termasuk cepat dan tidak menyakitkan:

1. Pasien berbaring di meja DXA.

2. Lengan pemindai bergerak di atas tubuh untuk memindai tulang.

3. Pemeriksaan biasanya berlangsung 5–10 menit.

4. Tidak diperlukan injeksi atau persiapan khusus, kecuali menghindari suplemen kalsium 24 jam sebelum pemeriksaan.

Radiasi yang digunakan sangat rendah—lebih rendah dibandingkan foto rontgen dada.

Keunggulan Bone Mineral Densitometry

Akurasi tinggi: menjadi standar emas diagnostik osteoporosis.

Cepat dan aman: radiasi minimal, prosedur non-invasif.

Dapat memantau perubahan kepadatan tulang secara serial.

Biaya relatif terjangkau dibanding metode pencitraan lainnya.

Kesimpulan

Bone Mineral Densitometry-DXA merupakan metode paling efektif untuk penapisan dan diagnosis osteoporosis. Pemeriksaan ini membantu mendeteksi penurunan kepadatan tulang secara dini, menentukan tingkat keparahan, dan memandu keputusan pengobatan. Dengan skrining yang tepat waktu, risiko patah tulang di masa depan dapat dikurangi secara signifikan.

USG tumit (QUS) dapat digunakan untuk penapisan osteoporosis akan tetapi tidak dapat digunakan untuk diagnosis.

Referensi

1. Riemer H. J. A. Slart, Marija Punda, Dalal S. Ali · Alberto Bazzocchi · Oliver Bock · Pauline Camacho, et al. Updated practice guideline for dual energy X ray absorptiometry (DXA). European Journal of Nuclear Medicine and Molecular Imaging (2025) 52:539–563 https://doi.org/10.1007/s00259-024-06912-6

2. 2023 ISCD Official Positions Adult

3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/2171/2023 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Osteoporosis 

4. Angela Sheu,Terry Diamond. Bone mineral density: testing for osteoporosis. Australian Prescriber. Volume 39 : Number 2 : April 2016

5. Nicholas R Fuggle, Jean-Yves Reginster, Nasser Al-Daghri, Olivier Bruyere, Nansa Burlet, Claudia Campusano, et al. Radiofrequency echographic multi spectrometry (REMS) in the diagnosis and management of osteoporosis: state of the art. Aging Clin Exp Res. Vol 36(1):135:  Juni 2024. doi: 10.1007/s40520-024-02784-w

6. Vishwanath SB, Veerendra Kumar, Sheela Kumar, Pratibha Shashikumar, Shashikumar Y1, Punit Vaibhav Patel. Correlation of periodontal status and bone mineral density in postmenopausal women: A digital radiographic and quantitative ultrasound study. Indian Journal of Dental Research, 22(2), 2011


Views : 173

Share :