
Gambar 1. a. BMD DXA

Gambar 1. b. QCT dan hasil pemindaian pemeriksaan QCT

Gambar 2. Posisi dan komponen QUS

Gambar 3. Radiofrequency Echographic Multi Spectrometry (REMS)
Faktor Risiko Osteoporosis
Dalam penapisan dan diagnosis osteoporosis, penting untuk mengetahui faktor risiko osteoporosis berupa riwayat konsumsi obat – obatan rutin, riwayat penyakit yang berhubungan dengan osteoporosis, serta faktor lain seperti riwayat merokok, konsumsi alkohol, haid, menarche, menopause, maupun riwayat keluarga dengan fraktur fragilitas.
Peran BMD dalam Penapisan Osteoporosis
Mengapa perlu skrining?
Osteoporosis sering disebut silent disease—tidak terasa hingga terjadi patah tulang. Oleh karena itu, skrining diperlukan untuk:
1. Mengetahui risiko patah tulang lebih dini sebelum gejala muncul.
2. Menilai efektivitas pengobatan pada pasien yang sudah menjalani terapi osteoporosis.
3. Mengidentifikasi individu dengan faktor risiko tinggi, misalnya:
- Wanita usia ≥ 65 tahun
- Pria usia ≥ 70 tahun
- Wanita pascamenopause dengan faktor risiko (rokok, alkohol, BMI rendah)
- Penggunaan obat steroid jangka panjang
- Riwayat patah tulang akibat cedera ringan
- Penyakit tertentu seperti rheumatoid arthritis atau malabsorpsi
Kapan Pemeriksaan BMD Sebaiknya Dilakukan?
Organisasi kesehatan internasional merekomendasikan pemeriksaan BMD bagi:
- Wanita ≥ 65 tahun dan pria ≥ 70 tahun
- Wanita pascamenopause atau pria usia 50–69 tahun dengan faktor risiko
- Individu dengan riwayat patah tulang setelah usia > 50 tahun
- Pengguna obat steroid jangka panjang (seperti prednison)
- Pasien dengan penyakit yang memengaruhi metabolisme tulang
- Orang dengan penurunan tinggi badan signifikan atau nyeri punggung kronis akibat kecurigaan fraktur kompresi
Indikasi Skrining Osteoporosis
• Skrining rutin: Semua wanita berusia di atas 65 tahun dan pria berusia di atas 70 tahun.
• Wanita pascamenopause: Usia di bawah 65 tahun tetapi memiliki faktor risiko osteoporosis seperti:
- Berat badan rendah
- Riwayat patah tulang pinggul sebelum usia 50 tahun
- Menopause dini
• Individu dengan faktor risiko lain:
- Pria berusia 50-70 tahun dengan faktor risiko
- Riwayat patah tulang setelah usia 50 tahun
- Penggunaan kortikosteroid (seperti prednison) selama 3 bulan atau lebih
- Konsumsi alkohol berlebihan (tiga atau lebih porsi per hari)
- Merokok
- Memiliki riwayat keluarga osteoporosis
- Mengalami penurunan tinggi badan secara signifikan
- Memiliki penyakit tertentu seperti rheumatoid arthritis, penyakit hati, diabetes tipe 1, penyakit ginjal kronis, atau gangguan makan.
Peran BMD dalam Diagnosis Osteoporosis
Pemeriksaan BMD dengan metode Dual energy X-ray Absorptiometry (DXA) sebagai baku emas menjadi alat penting dalam menentukan diagnosis dan rencana pengobatan. Dengan indikasi yang tepat, pemeriksaan ini tidak hanya membantu dalam penapisan populasi berisiko dan diagnosis, tetapi juga dalam memantau respons terhadap terapi.
Hasil BMD dinyatakan dalam bentuk T-score dan Z-score yang dibandingkan dengan populasi rujukan. Diagnosis Osteoporosis berdasarkan pada nilai T-Score dengan menggunakan BMD DXA untuk wanita dan pria > 50 tahun
Kriteria T-score menurut WHO:
• Normal: ≥ -1
• Osteopenia (low bone mass/ massa tulang rendah): antara -1 hingga -2,5
• Osteoporosis: ≤ -2,5
• Osteoporosis berat: ≤ -2,5 dengan riwayat fraktur akibat trauma minimal
Makna Z-score
Digunakan terutama untuk individu < 50 tahun, membandingkan densitas tulang dengan individu seusia. Z-Score tidak digunakan untuk menyatakan osteoporosis.
Pada perempuan premenopause dan laki-laki <50 tahun, serta anak-anak menggunakan Z-score dengan ketentuan:
1) Nilai Z-score >-2 dikatakan within expected range for age.
2) Nilai Z-score ≤-2 dikatakan low BMD for chronological age
Z-score ≤ -2 menunjukkan kemungkinan masalah tulang yang perlu evaluasi lebih lanjut.
Prosedur Pemeriksaan BMD
Pemeriksaan BMD termasuk cepat dan tidak menyakitkan:
1. Pasien berbaring di meja DXA.
2. Lengan pemindai bergerak di atas tubuh untuk memindai tulang.
3. Pemeriksaan biasanya berlangsung 5–10 menit.
4. Tidak diperlukan injeksi atau persiapan khusus, kecuali menghindari suplemen kalsium 24 jam sebelum pemeriksaan.
Radiasi yang digunakan sangat rendah—lebih rendah dibandingkan foto rontgen dada.
Keunggulan Bone Mineral Densitometry
• Akurasi tinggi: menjadi standar emas diagnostik osteoporosis.
• Cepat dan aman: radiasi minimal, prosedur non-invasif.
• Dapat memantau perubahan kepadatan tulang secara serial.
• Biaya relatif terjangkau dibanding metode pencitraan lainnya.
Kesimpulan
Bone Mineral Densitometry-DXA merupakan metode paling efektif untuk penapisan dan diagnosis osteoporosis. Pemeriksaan ini membantu mendeteksi penurunan kepadatan tulang secara dini, menentukan tingkat keparahan, dan memandu keputusan pengobatan. Dengan skrining yang tepat waktu, risiko patah tulang di masa depan dapat dikurangi secara signifikan.
USG tumit (QUS) dapat digunakan untuk penapisan osteoporosis akan tetapi tidak dapat digunakan untuk diagnosis.
Referensi
1. Riemer H. J. A. Slart, Marija Punda, Dalal S. Ali · Alberto Bazzocchi · Oliver Bock · Pauline Camacho, et al. Updated practice guideline for dual energy X ray absorptiometry (DXA). European Journal of Nuclear Medicine and Molecular Imaging (2025) 52:539–563 https://doi.org/10.1007/s00259-024-06912-6
2. 2023 ISCD Official Positions Adult
3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/2171/2023 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Osteoporosis
4. Angela Sheu,Terry Diamond. Bone mineral density: testing for osteoporosis. Australian Prescriber. Volume 39 : Number 2 : April 2016
5. Nicholas R Fuggle, Jean-Yves Reginster, Nasser Al-Daghri, Olivier Bruyere, Nansa Burlet, Claudia Campusano, et al. Radiofrequency echographic multi spectrometry (REMS) in the diagnosis and management of osteoporosis: state of the art. Aging Clin Exp Res. Vol 36(1):135: Juni 2024. doi: 10.1007/s40520-024-02784-w
6. Vishwanath SB, Veerendra Kumar, Sheela Kumar, Pratibha Shashikumar, Shashikumar Y1, Punit Vaibhav Patel. Correlation of periodontal status and bone mineral density in postmenopausal women: A digital radiographic and quantitative ultrasound study. Indian Journal of Dental Research, 22(2), 2011