Mengenali dan Mencegah Osteoporosis
pada Anak-Anak
dr. Karina Sugih Arto, M.Ked(Ped), Sp.A (K)
Pendahuluan
Osteoporosis
adalah gangguan yang ditandai dengan penurunan massa tulang serta perubahan
pada mikro-arsitektur jaringan tulang, yang menyebabkan kerapuhan rangka dan
peningkatan risiko terjadinya fraktur. Secara historis, osteoporosis dianggap
sebagai penyakit orang dewasa. Namun, kini dipahami bahwa kondisi ini memiliki
akar sejak masa anak-anak dan remaja, yaitu periode ketika massa dan struktur tulang
sedang berkembang dan mencapai puncaknya. Sebagian besar puncak massa tulang
ditentukan oleh faktor genetik yang tidak dapat diubah. Namun, berbagai faktor
lain seperti hormon, imobilisasi, nutrisi, waktu pubertas, peningkatan sitokin,
serta penggunaan obat-obatan tertentu juga dapat memengaruhi kesehatan tulang.
Insidensi fraktur pada anak dan remaja juga menunjukkan peningkatan, dengan
kejadian fraktur dipengaruhi oleh kombinasi faktor intrinsik dan ekstrinsik.
Dengan demikian, sangat penting untuk melakukan penilaian kesehatan tulang
serta menerapkan langkah-langkah pencegahan sedini mungkin pada anak dan remaja
yang berisiko memiliki densitas mineral tulang yang rendah.1
Apa itu Osteoporosis pada Anak?
Osteoporosis pada anak ditetapkan apabila terdapat riwayat fraktur
yang signifikan secara klinis disertai nilai densitas mineral tulang dengan
skor-z ≤ –2, riwayat fraktur yang bermakna secara klinis, yaitu dua atau lebih
patah tulang panjang sebelum usia 10 tahun, tiga atau lebih patah tulang panjang
pada usia 10 hingga 19 tahun, atau adanya satu atau lebih fraktur kompresi
tulang belakang yang terjadi tanpa trauma berat atau tanpa adanya penyakit
lokal penyebab, bahkan bila densitas mineral tulang nilai skor-z masih dalam
batas normal.2
Penyebab Osteoporosis pada Anak
Pembentukan dan deposisi mineral tulang pada anak dipengaruhi oleh
berbagai faktor genetik, hormonal, nutrisi, serta kondisi medis kronis.
Osteoporosis pediatrik dapat dibedakan menjadi osteoporosis
primer dan osteoporosis
sekunder. Osteoporosis primer terutama
disebabkan oleh kelainan genetik yang menyebabkan kerapuhan tulang bawaan,
seperti osteogenesis imperfecta (OI), sindrom Ehlers–Danlos, sindrom Marfan, displasia
kleidokranial, sindrom osteoporosis-pseudoglioma, dan displasia fibrosa. Di
antara kondisi tersebut, OI merupakan kelainan herediter langka akibat gangguan
biosintesis kolagen tipe I, dengan manifestasi klinis yang bervariasi dari
ringan hingga berat, termasuk massa tulang rendah, deformitas skeletal, fraktur
berulang, perawakan pendek, sklera biru, dentinogenesis
imperfecta, dan gangguan pendengaran. Mutasi pada
gen COL1A1
dan COL1A2
merupakan penyebab tersering pada berbagai tipe OI.3
Selain itu, terdapat osteoporosis juvenil idiopatik, yang ditandai oleh nyeri tulang, deformitas, fraktur, dan kepadatan mineral tulang rendah tanpa penyebab yang jelas, serta ditegakkan setelah penyebab lain disingkirkan. Sementara itu, osteoporosis sekunder berkembang akibat penyakit kronis atau terapi yang memengaruhi pembentukan, resorpsi, maupun mineralisasi matriks tulang. Gangguan endokrin seperti defisiensi hormon pertumbuhan, kelainan tiroid, dan hiperparatiroidisme baik akibat adenoma paratiroid, gagal ginjal kronik, gangguan metabolisme vitamin D, maupun neoplasia endokrin multipel dapat meningkatkan resorpsi tulang melalui stimulasi receptor activator of nuclear factor kappa-b ligand (RANKL) dan penurunan osteoprotegerin (OPG). Selain gangguan endokrin, penyakit neuromuskular, gastrointestinal, dan ginjal juga berkontribusi terhadap terjadinya osteoporosis sekunder pada anak.
Insidens osteoporosis sekunder pediatrik semakin meningkat seiring dengan meningkatnya angka kelangsungan hidup anak dengan penyakit kronis, termasuk kanker. Penurunan kepadatan mineral tulang dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon, malnutrisi, imobilisasi, inflamasi kronis, serta penggunaan obat-obatan tertentu. Hormon seks berperan penting dalam pertumbuhan dan pemeliharaan tulang serta pencapaian peak bone mass, sehingga kondisi hipogonadisme seperti pubertas terlambat, gagal ovarium prematur, hiperprolaktinemia, sindrom Turner, sindrom Klinefelter, atau hipogonadisme akibat terapi kanker meningkatkan risiko fraktur. Penggunaan glukokortikoid jangka panjang pada anak dengan penyakit kronis juga merupakan faktor risiko utama, karena dapat menghambat pembentukan tulang dan meningkatkan resorpsi tulang baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, anak yang menerima terapi glukokortikoid lebih dari tiga bulan, terutama dengan dosis kumulatif tinggi dan durasi lama, memerlukan pemantauan kesehatan tulang secara ketat.1,4,5
Tanda dan Gejala Osteoporosis pada Anak
Osteoporosis pada anak sering bermanifestasi sebagai kerapuhan
tulang yang ditandai oleh fraktur berulang, terutama akibat trauma ringan atau
tanpa mekanisme cedera yang jelas. Kondisi ini dapat disertai nyeri tulang,
fraktur multipel dengan derajat penyembuhan berbeda, serta fraktur pada lokasi
tertentu seperti tulang panjang, vertebra, atau tulang pipih. Dalam evaluasi
klinis, penting untuk mewaspadai adanya kondisi lain yang dapat menyerupai atau
memperberat kerapuhan tulang, seperti rakitis, yang ditandai oleh pseudofraktur
pada iga dan skapula, serta cedera non-aksidental yang dicurigai bila terdapat
ketidaksesuaian antara mekanisme trauma dan jenis fraktur, keterlambatan
mencari pertolongan medis, atau tanda cedera lain yang tidak dapat dijelaskan.
Setelah penyebab lain seperti rakitis dan cedera non-aksidental disingkirkan,
kerapuhan tulang pada anak dapat mengarah pada osteoporosis primer akibat
kelainan genetik atau osteoporosis sekunder akibat penyakit kronis atau terapi
tertentu, yang keduanya dapat terjadi secara bersamaan.6
Cara Mendiagnosis Osteoporosis pada Anak
Diagnosis dan tata laksana anak dengan riwayat fraktur dilakukan secara bertahap. Langkah pertama adalah menyingkirkan kemungkinan rakitis dan cedera non-aksidental, serta menentukan apakah anak mengalami kerapuhan tulang yang belum terklasifikasi atau berada dalam konteks klinis yang diketahui berkaitan dengan kerapuhan tulang. Setelah itu, dilakukan penilaian lanjutan untuk mengidentifikasi adanya kerapuhan tulang kongenital sebagai penyebab osteoporosis primer atau penyakit akut maupun kronis yang berperan sebagai penyebab osteoporosis sekunder. Pemeriksaan fisik mencakup penilaian antropometri dan evaluasi sistemik yang dapat mengarah pada diagnosis tertentu, termasuk pemeriksaan gigi, mata, sendi, kulit, dan tulang belakang.6,7
Pemeriksaan laboratorium awal meliputi kalsium, fosfat, alkali fosfatase, 25-hidroksi vitamin D, hormon paratiroid, magnesium, kreatinin, albumin, dan gamma glutamil transferase untuk menyingkirkan gangguan mineralisasi tulang, seperti rakitis. Setelah penyebab gangguan mineralisasi disingkirkan, evaluasi harus mencakup penelusuran penyebab sekunder osteoporosis. Pemeriksaan laju endap darah diperlukan bila dicurigai kondisi inflamasi sistemik. Apabila penyebab osteoporosis tidak dapat diidentifikasi atau terdapat kecurigaan kelainan genetik, pemeriksaan genetik dianjurkan.6
Kemampuan untuk
menilai kekuatan tulang dan mengukur kepadatan mineral tulang telah berkembang
pesat dalam beberapa dekade terakhir. Evaluasi ini bertujuan utama untuk
mengidentifikasi pasien dengan risiko tinggi mengalami fraktur akibat trauma
energi rendah yang berkaitan dengan kerapuhan tulang, serta untuk membantu
pengambilan keputusan terapi dan memantau efektivitas pengobatan. Standar
penilaian kesehatan tulang dan kepadatan mineral tulang terutama didasarkan
pada data yang diperoleh melalui Dual-energy
X-ray Absorptiometry
(DXA), yang memungkinkan evaluasi kandungan
mineral tulang, massa tanpa lemak non-tulang, massa lemak, serta estimasi
jaringan adiposa viseral. Seiring dengan itu, pendekatan diagnostik baru seperti
Quantitative Computed Tomography (QCT), Quantitative Ultrasound (QUS), dan Radiofrequency
Echographic Multi Spectrometry
(REMS) semakin banyak diteliti dan digunakan
dalam beberapa tahun terakhir.6,7
Pencegahan Osteoporosis pada Anak
Suplementasi kalsium dan vitamin D, perubahan gaya hidup, serta
aktivitas fisik teratur merupakan langkah utama pencegahan osteoporosis,
khususnya pada anak dan remaja dengan penyakit kronis. Suplementasi kalsium dan
vitamin D terbukti meningkatkan kepadatan mineral tulang, terutama pada anak
dan remaja dengan asupan kalsium rendah atau kadar vitamin D yang menurun.
Sumber kalsium dari makanan lebih dianjurkan dibandingkan suplemen tablet atau
bubuk, dengan kebutuhan harian berkisar antara 500–1.000 mg sesuai usia. Kadar
25-hidroksivitamin D dianjurkan dipertahankan di atas 20 ng/mL, dan
suplementasi vitamin D direkomendasikan pada anak dengan penyakit kronis bila
kadarnya di bawah nilai tersebut. Pada anak dengan BMD rendah (skor-Z ≤ –2,0),
suplementasi vitamin D perlu dipertimbangkan bila kadar 25-hidroksivitamin D di
bawah 30 ng/mL. Dosis pemeliharaan vitamin D adalah 400 IU per hari untuk anak
usia di bawah 1 tahun dan 600 IU per hari untuk anak usia di atas 1 tahun.
Kalsium dan vitamin D sebaiknya diberikan pada seluruh anak dan remaja yang
menjalani terapi glukokortikoid, terutama bila durasi pengobatan melebihi tiga
bulan. Pola makan sehat dengan asupan kalori, protein, serta buah dan sayur
yang kaya vitamin dan mineral juga berperan penting dalam menjaga kesehatan
tulang.8
Aktivitas fisik teratur dapat meningkatkan kualitas dan kekuatan
tulang melalui stimulasi remodeling tulang akibat beban mekanik. Latihan
menahan beban seperti berlari, melompat, dan latihan resistensi terbukti
meningkatkan akuisisi mineral tulang, terutama pada masa pubertas awal. Namun,
aktivitas fisik yang berlebihan dapat meningkatkan risiko fraktur sehingga
intensitas latihan perlu disesuaikan dan dipantau. Gaya hidup sedentari
sebaiknya dihindari, dan berat badan yang terlalu rendah juga perlu dicegah
karena dapat menghambat pencapaian peak
bone mass pada remaja.7
Kesimpulan
Osteoporosis pada anak merupakan kondisi multifaktorial yang dapat
berasal dari kelainan genetik maupun penyakit kronis dan terapi tertentu,
dengan risiko fraktur akibat kerapuhan tulang sejak usia dini. Diagnosis
memerlukan pendekatan komprehensif yang mencakup riwayat fraktur, evaluasi
klinis, pemeriksaan laboratorium, dan penilaian densitas mineral tulang.
Deteksi dini serta pencegahan melalui optimalisasi nutrisi, suplementasi
kalsium dan vitamin D, aktivitas fisik yang sesuai, dan pemantauan anak
berisiko tinggi sangat penting untuk mendukung pencapaian puncak massa tulang
dan mencegah komplikasi jangka panjang.
Daftar Pustaka
1. (16):1-17 Jin HY, Noh ES, Hwang
IT. Diagnosis and Management of Osteoporosis in Children and Adolescents.
Ewha Med J. 2023;46(4):1-9
2. Shuhart CR,
et al. Executive Summary of the 2019 ISCD Position Development Conference on
Monitoring Treatment, DXA Cross-calibration and Least Significant Change,
Spinal Cord Injury, Peri-prosthetic and Orthopedic Bone Health, Transgender
Medicine, and Pediatrics. J Clin Densitom. 2019;22(4):453-71
3. Forlino A,
Marini JC. Osteogenesis imperfecta. Lancet. 2016;387(10028):1657-71
4. Compston J. Glucocorticoid-induced
osteoporosis: an update. Endocrine. 2018;61(1):7-16
5. Jang MJ, et al. Factors affecting bone
mineral density in children and adolescents with secondary osteoporosis. Ann
Pediatr Endocrinol Metab.2023;28(1):34-41
6. Ward LM. A practical guide to the diagnosis
and management of osteoporosis in childhood and adolescence. Front.
Endocrinol. 2024(14);1-18
7. Cannalire G,
Biasucci G, Bertolini L, Patianna V, Petraroli M, Pilloni S, Esposito S, Street
ME. Osteoporosis and Bone Fragility in Children: Diagnostic and Treatment Strategies. J.Clin Med. 2024;13(4951):1-17
8. Lee YA, et al. Clinical practice guidelines for optimizing bone health in Korean children and adolescents. Ann Pediatr Endocrinol Metab. 2022;27(1):5-14